Kamis, 09 Mei 2013

"What's up with METEOR?" Eps.3

     Cuaca pagi itu cukup cerah, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. mendung. Lengkungan manis terlihat disetiap bibir para pemburu ilmu. Tumpukkan tugas tak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap tersenyum. Ini emang udah jadi resiko kita sebagai pelajar, jadi ngapain mesti ngeluh? ini kan juga demi masa depan kita. Siapasih yang gamau sukses?
Munawir Rizaldy, pria berkulit sawo matang ini telat bangun pagi.
Kringg.... Kring.....Kring.... jam bekernya kembali mengeluarkan bunyi yang amat dibencinya dan "Braak!!!" dilemparnya jam itu. pecah. dan "tok...tok..tok..!!  Aldi? buka pintunya, kamu ga tau ini sudah jam berapa? cepat bangun atau pintunya papa dobrak?" gerutu ayahnya.. "Iya..iya pa! Aldi bangun!!" jawabnya kesal sambil beranjak dari tempat tidurnya itu. "06.30??! gila! gw telat!!" teriaknya kaget melihat jam dari BlackBerry-nya. Tanpa basa basi ia masuk ke kamar mandi, dan Plaak!! Aldi terpeleset. "Hah, sial! kalau bukan karena ulangan ekonomi, ngapain gw bangun." umpatnya.
 Hari ini sebenarnya Riri masuk sekolah, shootingnya ditunda sampai besok. Tapi karena capek, ayahnya memintanya untuk istirahat dulu. Berbeda dengan Aristi, Echa, Ifah dan Vivi yang udah standby di sekolah sejak pukul 06.00, Dika memilih untuk bolos dan menghabiskan harinya dengan game. Jadi intinya, Riri dan Dika ga masuk hari ini. Of course, mereka akan ikut ulangan susulan.
Jam sekolah udah nunjukin pukul 06.49, tapi bel belum berbunyi juga. Rupanya ini kabar baik bagi Aldi yang tiba di sekolah pukul 06.50, Dewi Fortuna berpihak padanya. Tepat selangkah melewati gerbang SMA Negeri 73 Gorontalo bel dibunyikan dan gerbang ditutup. "Uww yeah! gw bebas dari surat-suratan.. hahah.." seru Aldi sambil tertawa kecil berjalan lapangan untuk apel pagi. Seperti biasa, yang mimpin apel adalah pak Marijan, ditemani rekan kerjanya, pak Raden, bu Tati, dan pak Roya. Cukup lama. Setelah setengah jam apel di  lapangan, rasanya bosen juga. Yaudah, kalo bosan, masuk yok!
Baru aja mau nge-PES, eh ibu Surtiyah udah masuk. "Sesuai janji ibu, hari ini kita ulangan. Simpan semua buku kalian, sediakan pensil dan penghapus diatas meja. Ibu akan membagikan soal dan lembar jawaban. Pas bel istirahat berbunyi, ibu anggap sudah selesai dan semua harus dikumpul. Yang terlambat, tidak akan diperiksa!" cerocos bu Surtiyah. Ulangan dimulai! kelas yang masih dihiasi plastik makanan ringan disusul dengan butiran butiran debu itu tampak sangat hening. Ya, mereka sibuk berperang dengan soal ekonomi yang susahnya minta ampun! Tapi tidak dengan Ikbal, ia mengerjakan soal dengan sangat santai. Berkat dukungan yang besar dari soulmatenya, Riri, anak ini mendadak rajin belajar dan doyan banget sama yang namanya buku pelajaran. Berbanding terbalik dengan Rimon yang celingukan nyari jawaban. Semalam dia emang belajar, tapi belajar kimia bukan ekonomi. Padahal ulangan kimia udah selesai seminggu yang lalu. Bagaimana dengan Aldi yang rela-relain datang ke sekolah? simple. kalo ga belajar, ngapain dia datang?

***

     Waktu istirahat tiba. Dila memilih ke kantin sendirian. Aldi yang tadinya berjalan seperti orang yang terburu-buru, tiba-tiba berhenti melihat Dila duduk termenung sendirian. Ia pun datang menghampiri Dila.
"Hey? kenapa lo Dil? Dari kemarin gw liat, lo murung terus? ada masalah?" tanyanya sambil duduk didekat Dila.
"Ga koq Di! gw cuma kangen bonyok gw.." jawabnya seraya mengaduk-aduk minumannya.
"Hah? bonyok apaan..?"
"Halah, kamseupay banget sih lo! Bonyok itu BOKAP-NYOKAP!!" jawabnya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Aldi.
"Oooooooh..... itu! hah, lo ga bilang sih daritadi.... Lagian, lo jahat banget sih, ngatain gw kamseupay.."
"Biarin.."
"Eh, nasib ulangan ekonomi lo gimana?"
"Hah, ga tau deh.."
"Jutek banget, jelek tau mukanya..." goda Aldi sambil tertawa kecil.
"Apaan sih lo!" jawab Dila. Kali ini Aldi berhasil buat Dila senyum.
"Eh, Dil! ntar malam lo ada waktu? jalan yuk!"
"gabisa!" jawab Dila spontan.
"Kenapa?"
"Yah pokoknya gw gabisa!!"
"Iyadeh.. tapi gw boleh duduk disini kan? temanin lo makan?" godanya lagi. Kali ini Aldi mendapat anggukkan dari Dila. Ia selalu mancing Dila untuk bicara. Alhasil, mereka menghabiskan waktu istirahat berdua. Sebenarnya Aldi sudah lama suka sama Dila. Tapi Dila hanya menganggapnya sebagai teman biasa, nggak lebih. Belakangan ini dia selalu menyendiri, ga lain karena kangen bonyoknya yang saat ini ga tinggal bersamanya. Aldi berusaha meyakinnya bahwa orang tuanya disana baik-baik aja, dan Dila ga perlu khawatir. "Al! gw pengen pulang, pengen ketemu mereka!" ujar Dila.
"Nanti aja! gw juga pengen ketemu ortu lo.." jawab Aldi dengan tatapan yang mendalam.
"Maksud lo?"
"Iya Dil! nanti gw bakal ketemu bonyok lo itu buat ngelamar lo!"
"Garing ah.... udah deh jangan bercanda!"
"Gw serius Dil! ntar kalo gw udah selesai kuliah, dan udah punya kerja, gw bakal ngelamar lo!"
"Hahaha..... lo pasti bercanda kan? cuma buat gw ketawa, iya kan?"
"Hahaha... terserah lo deh.."
Aldi emang terlihat seperti sedang bercanda. Tapi apa yang dikatakannya bisa saja benar.
"Eh...... ngapain mereka berduaan disitu?" seru Daning kaget melihat Aldi dan Dila.
"Aldi sama Dila??" tanya Izky.
"Mereka pacaran?" tanya Devi.
"Positive thinking aja! mereka berdua kan emang teman dekat.." tukas Michelle.
"Tapi itu??" seru Iis sambil mengarahkan telunjuknya kearah Dila dan Aldi.
"Bener kata Michelle. Udah, jadi jajan nggak??" seru Ifah.
"Yaudadeh!" jawab Izky, Devi dan Iis.
Sementara di kelas; "Eh, Dif? gw boleh pinjam catatan fisika lo nggak?" tanya Iqbal berjalan mendekati Difa.
"Iya boleh koq.. Nih!" seru Difa sambil memberikan buku catatannya.
"Kenapa ga pinjam punya gw aja, Bal?" tawar Nadila.
"Jangan......jangan.....????" seru Vivi.
"Jangan jangan apa?" tanya Iqbal.
"Jangan jangan lo suka yah sama Difa?" tukas Nadira.
"Cieeeeee......." goda Vivi.
"Udah ngaku aja!!" ledek Ludin
"Apaan sih lo semua, jangan ngaco deh!" tangkis Iqbal.
"Lo bukannya lagi ngincar anak kelas sebelah itu yah?" tanya Echa.
"Haaaah, lo lagi.. apaan sih.. giniyah, gw minjam catatan Difa itu karena kemaren dia diskusinya bareng gw! gausah ngarang deh.. bercanda lo pada ga elit semua. basi tau nggak..." jawab Iqbal ketus.
"Yaelah..... gausah diambil hati juga kaleeee...." teriak Ikram.
"Iya... Tapi tunggu, tadi kata Echa lo ngincar anak sebelah, emang iya? koq lo ga pernah cerita ke gw sih? biasanya kan lo kasih tau gw... koq kali ini nggak sih?" tanya Ilham panjang lebar.
"Lo percaya Echa atau gw?"
"Yah gw percaya lo sih..."
"Lah terus..????"
"Iya deh iya...... Santai bro! gausah marah marah.."
"Kalian lagi pada ngapain?" tanya Daning yang baru aja balik dari kantin..
"Lo liat kita ngapain?" jawab Rimon.
"nge-PES..."
"Terus? kenapa masih nanya?"
Daning terdiam dan mengabaikan perkataan Rimon. Anak ini emang ga henti-hentinya gangguin Daning. Tapi hal itu udah ga asing lagi bagi Daning..

***

     Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di sekolah, mereka pulang membawa lelah. ini udah jadi rutinitas mereka sehari-hari. pergi pagi, pulang sore. awal-awalnya sih pada ngeluh, tapi karena udah biasa, semuanya fine fine aja.... 
"Ga mau bareng Dil?" tawar Aldi..
"Eh, gausah,,, makasih....." jawab Dila.
"Udah, ayo masuk...."
"Bener nih ga ngerepotin?"
"Iya..... ayuk!".
Aldi dan Dila pulang bareng naik ferrari-nya Aldi.
"Eh, koq tumben lo bawa ferrari hari ini? hartop lo kemana?" tanya Dila.
"Hartop gw dipakai sama bokap, dan diganti sama yang ini nih..."
"Wah,, keren Di!"
"Haha.. lo bisa aja.... By the way, lo sekarang tinggal di apartemen yah?"
"Ga Di! gw sayang kost-kost-an gw.. Apartemen itu punya bokap gw, tadinya dia nyuruh gw pindah kesitu, tapi gw ga mau...."
"Loh? kenapa?"
"Gw udah PW tinggal di kost Di!"
"Jadi, lo mau turun disini?" tanya Aldi seraya menghentikan mobilnya tepat didepan kost Dila.
"Pasti! makasih yah Di! lumayanlah, menghemat biaya transportasi.. Sekali lagi makasih banget, maaf udah ngerepotin!" seru Dila, turun dari mobil.
"Iya sama-sama Dil! Gapapa koq.... besok besok, pulangnya barengan lagi yah?" tawar Aldi.
"Yeeah, liat nanti aja deh! Bye!!" Dila masuk kedalam kostnya dan Aldi balik ke rumah.
     Meskipun seharian ini Aldi banyak menghabiskan waktunya bersama Dila, tapi dia masih merasa ada yang kurang. "Gw belum nembak Dila, tapi kalo nanti gw nembak dia, apa dianya mau nerima gw?" tanyanya dalam hati. "Ah, pokoknya gw harus beraniin diri.. sekarang juga, gw bakal nelfon Dila!" lanjutnya. "Tapi apa iya, gw nelfon dia? apa ga sebaiknya ngomong langsung aja?? ah tapi ga deh, gw telfon sekarang aja.." gumamnya seraya membolak-balikkan Blackberry-nya. "Ah bodoh!" tanpa basa basi babi busuk, Aldi pun menelfon Dila.
"aku suka jaipong, kau suka disko.. ow..ow..ow.. aku suka singkong, kau suka keju.. ow..ow.." waf lagu Bill & Brod yang ga kalah keren itu mengalun dihandphone Dila..
"Halo Di! ada apa?" tanya Dila.
"E....e....e.. gw mau ngomong sama lo!" jawab Aldi gugup.
"Loh? kenapa ga tadi aja, mau ngomong apa?"
"ehehe.. gw lupa Dil.. gw mau bilang, kalau sebenarnya..."
"Sebenarnya apa?"
"Se...sebenarnya.."
"Koq lu jadi kayak Ajiz Gagap gitu sih? sebenarnya apa?"
"eee... gini Dil! sebenarnyaa..."
"Sebenarnya.. sebenarnya.. sebenarnya lu jadi ngomong nggak sih?" tanya Dila kesal.
"Nah, itu dia! sebenarnya gw gajadi ngomong. maaf ganggu." seru Aldi dan segera menutup telfonnya.
"Kenapa lidah gw jadi kaku? kenapa gw ga berani ngomong sama Dila?" tanyanya dalam hati. "Ini anak makin hari makin aneh.." gumam Dila. "Ah, bodoh amat! ngapain gw mikirin dia? Buang-buang waktu aja.." lanjutnya. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Dila. Ia membaringkan badannya diatas ranjang, perlahan matanya mulai tertutup dan kembali masuk ke alam mimpi.

bersambung...

Kamis, 02 Mei 2013

"What's up with METEOR?" Eps.2

     Saking asiknya Ayi, Echa, dan Aristi ngobrol di taman kota, mereka lupa akan waktu. Suara adzan maghrib mulai berkumandang, cahaya kemerah-merahan memancar dari arah barat bumi Gorontalo. Echa mengambil tupperware ditasnya, "Ar, Ay! Mau?" tawarnya seraya mendekatkan tupperware ke arah mereka. "Udah, buat lo aja.." jawab Ayi sambil melepaskan headsetnya. Aristi beranjak dari tempat duduknya, "Iya Cha! Met buka puasa.. Karena udah mau maghrib, gw duluan yah.." serunya seraya meninggalkan Ayi dan Echa. "Yaudah, gw balik, mau ke masjid.." ujar Echa. "Kenapa nggak barengan aja? gw juga mau ke masjid." ajak Ayi..
"Yakin lo mau ikut?"
"Ceeiiileeeh.... lo ngeraguin gw?"
"Nggak sih, gw hanya mastiin aja...."
"Udah deh, bilang aja kalo lu nggak mau, gw juga bisa pergi sendiri koq..."
"Lo marah? jangan ngambek dong, gw kan cuma bercanda.." bujuk Echa.
"Hah, iyadeh.. gw juga bercanda.. udah pergi ayok! nanti keburu malam.."
"Ayuk!"
Ayi dan Echa pergi ke masjid bersama-sama. Setelah selesai sholat maghrib, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing..
***
     Esoknya,, mereka masuk seperti biasa. Tapi, Riri ga masuk karena sibuk shooting. Sedangkan Tia, anak paling pendiam dikelas, baru pulang dari Australi, kebetulan dia ultah hari ini..
"Eh, orang Australi!" sambut Aristi dengan semangatnya.
"Cieee-cieee... jauh-jauh ke Australi, lo bawa apaan Ti?" seru Echa..
"Lo bawa bule pesenan gw?" tanya Utari nakal.
"Apaan sih lo Ut?" sambung Nadila.
"Yah kan gw cuma beracanda...." jawab Utari.
"Tiaaa! selamat ulang tahun yah,! semoga panjang umur dan sehat selalu.. tambah pintar, tambah cantik, manis, pokoknya deh yah! ya ampun, 2 minggu ga ketemu, kita kangen juga sama lu!" cerocos Difa sambil berlari kearah Tia, dan berjabat tangan, disusul dengan teman-teman yang lain.
Tia tesenyum. "Aamiin, makasih yah semua.... Eh iya, gw ngundang kalian datang ke party gw ntar malam!" seru Tia.
"Ngapain? makan-makan? asiiiiik" seru Rimon.
"Halahhh..... lu tuh ya Mon, makan aja dipikiran lo.. Tapi badan lo ga gemuk-gemuk juga..." Ledek Ayi...
"Biarin, yang penting gw tetap jadi orang yang super duper ganteng, keren kece cetar membehana badai nomor 1 sejagat raya!" jawabnya dengan penuh percaya diri...
"Udaaah! ssssttttt! Diam!" teriak Ifah kesal  sambil mengikat tali sepatu yang sempat diinjak sama Iis.
Istirahat pertama, Tiba-tiba......
"OMG!!!!!!!!! Dompet gw ilang!!!" seru Devi seraya mengotak-atik isi tasnya.
"Dompet lo lari tadi, tadi gw liat dia kabur dari tas lo.." ledek Rimon yang asik- asikan nge-PES.
"Hahah, dompet lo punya kaki, Dev?" Ledek Ayi yang juga yang lagi asik bareng Rimon.
"Emang tadi lo taruh dimana sih? Tanya Vivi.
"Seingat gw, yah di tas gw.." jawab Devi dengan yakinnya.
"Dompet lo ketinggalan kaliiiiii.." tukas Nadira.
"Tapi gw yakin Nad, gw taruh ditas tadi!" jawab Devi.
"Coba deh lo ingat-ingat lagi....." ujar Daning.
"Nahloh? Tadi bukannya lo yang bilang ke gw kalo dompet lo ketinggalan?" seru Nadila.
"Ho'oohh.. lu juga bilang gitu ke gw.." lanjut Izky.
"Iyayah? kalau begitu, dompet gw emang ketinggalan donk....." jawab Devi bingung. "Ohh iya, gw baru ingat! bener, dompet gw ketinggalan!" sambungnya...
"Wah, parah lu Dev! udah belajar pikun lu?" ledek Rimon lagi.
"Gw ga butuh suara lo! mendingan lo diam aja kenapa sih..? cerewet banget jadi orang.." gerutu Devi. "Eh, ngomong-ngomong, Riri kemana? Dia sakit?" Tanyanya..
"Ga, dia lagi shooting film pertamanya, dia izin untuk beberapa hari..." jawab Ikbal sambil mencoret-coret diary-nya.
     Ditengah-tengah keasikan mereka, gatau kenapa, Dila memilih untuk menyendiri di halaman belakang dekat ruang seni. Aldi yang tadinya ke toilet, datang menghampirinya. "Masih ngegalau aja lu? ngapain lu disini?" tanya Aldi seraya duduk disampingnya. "ga koq, gapapa.." jawab Dila, dan iapun segera berdiri. "Mau kemana? kalo lo ada masalah, lo cerita aja ke gw, gw siap jadi diary lo!" seru Aldi.
"Ga, gw baik-baik aja!" ujar Dila. Iapun pergi meninggalkan Aldi.
"Mulut lo mudah aja bilang "gapapa", tapi mata lo ga bisa bohong Dil" umpat Aldi dalam hati.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dila? Pertanyaan itu seringkali muncul dibenak fikiran Aldi. Ia teringat akan kejadian itu. Dila memang terlihat baik-baik saja didepan teman-teman, tapi ada yang aneh ketika ia duduk menyendiri dihalaman belakang. Dila enggan mengatakan masalahnya kepada teman-temannya. Tiba dikelas, Aldi melihat Dila asik bercanda dengan teman-temannya. Sungguh sangat bertentangan dengan apa yang dilihatnya tadi. Tapi ia berusaha untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Ia berusaha untuk percaya, bahwa Dila baik-baik saja. Dila pun terdiam sejenak ketika melihat Aldi masuk ke kelas. Namun, dia kembali tidak menghiraukannya.
---
Tengg...Teng...Teng...
Ketika bel pulang berbunyi, mereka memasukkan ATM kedalam tas mereka.. "Ning, ntar di party-nya Tia, lo mau pergi bareng siapa?" tanya Ifah sambil memakaikan sepatu dikakinya. Anak ini emang suka ga pake sepatu kalau dalam kelas..
"Ga tau nih If! Bingung gw!" jawab Daning sambil memperbaiki kerudungnya.
"Bareng gw aja!" tawar Difa.
"Iya Ning! Lo bareng Difa aja.. Lagian si Riri kan juga lagi sibuk, nah lo temanin dia!" seru Ifah.
"Terus Ikbal-nya?" tanya Daning.
"Udah, Ikbal-nya bareng gw!" jawab Ludin.
"Okee deh!" jawab Daning setuju. "Eh, terus yang lainnya, pada mo pergi bareng juga? tanya-nya lagi.
"Gw bareng Devi, Utari ama Michelle, Dian dengan Aristi, Vivi sama Iis dengan Dila juga, terus sisanya pada pergi sendiri mungkin!" Jawab Izky sok tahu.
"Yaudah deh! Tapi kalian harus tetap datang yah!" bujuk Tia lagi.
"Iya, datang koq, insya ALLAH!" jawab mereka kompak.

***
     Sorenya, Ayi menelfon Echa dengan iPhone5 kesayangannya, BlackBerry z10-nya Echa bunyi mengalunkan lagu 'Katty Perry-Firework', Do you ever feel like a plastic bag, drifting through the wind, wanting to start again. Do you ever feel, feel so paper thin, like a house of cards, one blow for caving in... Do you ever feel already buried deep, six feet under screams, but no one seems to hear a thing ...
"Assalamu'alaikum..." seru Echa memulai percakapan.
"Wa'alaikum salam... Ini gw! Ayi.. nomor lo gw dapat dari si Daning. Lo lagi ngapain? Sibuk yah? Koq lama ngangkat telfon gw?" cerocos Ayi..
"Ehm, maaf Ay, gw keasikan nonton!" jawab Echa. "Emang ada apa sih? Tumben lo nelfon gw, ga biasanya.." lanjutnya.
"Eh, enggak, gw cuma mo nanya doang, ntar lo jadi kan ke party-nya Tia?"
"Ummmm? ga tau, gw liat-liat dulu deh! kenapa emang?"
"Oh, nggak, gw nanya aja.. Oke Cha, bye.." seru Ayi dan langsung mematikan telfon.
Echa bingung dengan sikap Ayi, "Ini anak kenapa? ga ada angin, ga ada hujan, nelfon gw! hah bodoh amat!" gumamnya. "Eh, tapi, koq gw ngerasa seneng banget yah? Ah, udahlah.. ga penting juga.." Sebenarnya ia memendam rasa suka kepada Ayi, tapi perasaan itu berusaha ia hilangkan. Echa berjalan menuju dapur, ia merasa sangat sangat lapar, ia pun mengisi perutnya dengan 'Gulai malbi dan es kacang merah'.
    Malamnya, ia kedatangan sodara-sodaranya dari tempat asalnya, ia gak akan datang ke party-nya Tia, dan memutuskan pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhannya, dan kebutuhan sodara-sodaranya disini.. Tadinya Echa akan pergi bersama kakaknya, tapi kakaknya ga bisa karena motornya mogok, Echa pun memutuskan untuk pergi sendiri naik taxi. Ketika ia hendak membuka pintu pagarnya, secara tidak sengaja, mobil Maybach Landaulet Ayi lewat, dengan Ayi pastinya. Ayi berkesiap melihat Echa, mobil mewahnya itu pun berhenti dimuka rumah Echa dan ia keluar dari mobil menghampiri Echa.
"Mau kemana lu?" tanyanya sambil mengagetkan Echa.
"Ini gw mau ke supermarket.." jawab Echa.
"Loh? lo nggak ke party?"
"Kagak, sodara-sodara gw pada datang kerumah.."
"Lah terus? lo nya malah ke supermarket..?"
"yah kan persediaan di rumah gw pada habis, makannya gw ke supermarket.." jawab Echa yang lagi celingukan nyari taxi. "Eh, lo mau ke rumah Tia?" tanya-nya.
"Iya sih... nah, lo ke supermarket naik apa?"
"taxi..."
"ga mau bareng gw?" tawar Ayi.
"eh, nggak ah! lo kan mau ke party-nya Tia.." komentar Echa.
"gapapa koq, daripada lo nunggu taxi, ga dateng dateng juga.. mending lo bareng gw! ntar lo di PHP-in lagi supir taxi.. berharap ada, tapi malah ga ada...."
Echa terdiam sejenak sambil berfikir....
"Udah, mau yah?" bujuk Ayi... Tak sia-sia, ajakannya mendapat anggukkan dari Echa. Iapun pergi bersama Echa. Sementara di belahan bumi lain, tempatnya di rumah Tia, 
"Eh, Nad! lu liat Ayi, ga?" tanya Rimon yang bolak balik nyari Ayi kepada Nadira.
"gw bakal kasih tau, tapi lu harus ambilin gw minum dulu!" jawab Nadira.
"Iya deh..." demi Ayi, Rimon rela-relain ambilin Nadira minuman. "Nih!" serunya sambil memberikan gelas berisi minuman kepada Nadira. "Sekarang, lo kasih tau, dimana Ayi?"
"Thanks! sebenarnya sih, gw gatau juga Ayi-nya dimana, maaf yah!..." jawab Nadira
"Wah, parah lu Nad! iya deh, gapapa.. sekali-sekali baik sama anak orang.." ujarnya.
"Eh, Nad, gw boleh pinjam handphone lu gak?" tanya Rimon.
"Untuk apa?"
"Nelpon Ayi, bolehkan? Pulsa gw habiiis! boleh yah.." bujuk Rimon.
"Yaudah, nih!" seru Nadira seraya mengambil android Vertu Ti-nya, dan memberikannya kepada Rimon.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menelfon Ayi.....
"Nad?"
"Hah?"
"Ini koq yang ngangkat cewek yah?" tanya Rimon penasaran.
"Ah yang bener? dia bilang apa?"
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.." jawab Rimon.
"Yaaaah, kiran apaan... dasar lu Mon!"
"hahahahah..... eh tapi koq ga aktif sih?"
"yah mana gw tau.... hp, hp dia..!"
"Ay,,, Ay...! lu kemana sih? bikin gw galau aja..... yaudah deh, nih  handphone lo! Thanks yah..." serunya sambil mengembalikan handphone Nadira, dan pergi meninggalkannya.
Malam itu party-nya emang rame! Meski dari 26 siswa, 3 diantaranya gak datang (Echa, Ayi dan Riri). Mereka tampak menikmati suasana itu, tapi tidak dengan Rimon. Anak ini nge-galau full selama malam itu karena Ayi gak datang.. Melihat Rimon duduk menyendiri, Ludin pun datang menghampirinya..
"Kenapa lu Mon?" tanya Ludin sambil mengagetkan Rimon.
"Eh elu, Din...! ga, gw cuma ngerasa ada yang kurang aja, karena Ayi ga dateng.."
"Udah, mungkin dia sibuk kaliii..... ada urusan lain.." tukas Ludin.
"Mungkin juga sih..."
"Udah, gabung yuk! asik tuh! mereka lagi pada main game!" ajak Ludin.
"Game apa?"
"Udah, kesana aja... yuk!"
"Yauda deh, ayok!" ajakan Ludin berhasil mempengaruhi Rimon. Mereka berdua datang menghampiri teman-teman lain yang asik main game dengan diiringi lagu yang dinyanyikan oleh Ifah. Malam itu jadi moment indah bagi anak-anak METEOR, tak terkecuali untuk Riri yang menjalankan shootingnya, apalagi untuk Echa dan Ayi. Namun sayang, setengah jam setelah party dimulai, Aristi dan Dian pamit pulang duluan, karena mereka harus ke supermarket membeli keperluan mereka, sebelum supermarket itu tutup. "Tia, maaf yah.. gw sama Aristi mau pamit.. kita mau ke supermarket, ada keperluan dadakan.. ntar, supermarket keburu tutup lagi... maaf yah... gapapa kan?" tanya Dian kepada Tia..
"Iya koq, gapapa... makasih yah udah nyempatin datang!"
"Iya, sama-sama Ti! sekali lagi maaf yah...." ujar Aristi...
"Iya... iya.... gapapa koq....."
"yaudah, kita pamit dulu yah....."
Mereka pergi meninggalkan party dan on the way supermarket dengan motor baru Dian. Setiba di supermarket, dan secara tidak sengaja, "Eh, Ar! itukan Echa sama Ayi?" ujar Dian.
"Mana? mana?"
"Itu yang diujung sana!"
"Wah, iya bener!" seru Aristi sambil menaikkan kacamatanya. "Ngapain mereka disini? Berarti, mereka ga dateng ke party-nya Tia, hanya karena ini? wah...waaah.... koq bisa yah mereka sedekat itu? cerocosnya.
"Iya, gw juga ga tau... Kita samperin yuk!"
"Eh jangan! ntar ganggu loh!" jawab Aristi sambil menahan Dian. "Eh, udah cepat! lo mau beli apa? ambil buruan, gw tunggu lo di kasir, setelah itu kita ikutin mereka!"
"Oke..oke.. lu tunggu disini ya Ar!"
"Iya, udah sana cepat!"
Saking terburu-buru, Dian yang tadinya mau beli kuas, malah masukin sikat gigi ke keranjang belanjaannya, yang sebenarnya mau beli coklat Aristi, malah beli sabun mandi! Tiba dikasir, "nahloh? ini apa koq ada sikat gigi sama sabun mandi? kuas sama coklatnya mana?" tanya Aristi.
"Aduh! mampus gw! salah ngambil.."
"Lo sih! udah gapapa, bayar aja. Echa sama Ayi juga udah mau pergi tuh!" Mereka seakan akan merasa tidak menyesal dengan apa yang sudah mereka beli. Akan lebih menyesal lagi, jika mereka ga bisa ngikutin Echa sama Ayi. Aristi dan Dian yang terus buntutin Echa dan Ayi dari belakang, mereka makai helm full face biar ga ketahuan.. Tibalah mereka di rumah Echa... Ayi dan Echa pun keluar dari mobil Maybach Landaulet itu. "Ay, makasih yah udah mau nemanin gw.... maaf udah ngerepotin, maaf juga gara gara gw, lo gagal ke party-nya Tia.."
"Gapapa koq... yah daripada nanti lu kenapa-kenapa..."
"Ummmm... ga masuk dulu?" tawar Echa.
"Eh, nggak usah Cha... gaenak sama sodara sodara lu... yaudah kalau gitu, gw pulang yah..."
"Yakin? Yaudadeh.... sekali lagi, makasih yah...."
"iya, sama-sama..." jawab Ayi sambil masuk kedalam mobil mewahnya itu..
"Hati-hati yah!" seru Echa sambil melambaikan tangan.
Malam itu menjadi malam yang indah bagi mereka. Echa dan Ayi ga bakalan lupa saat-saat itu.

***
     Esoknya, seperti biasa, ga ada yang kurang dan ga ada yang lebih, suasananya masih sama seperti kemaren. "Eh, Cha? lo koq ga dateng semalam?" tanya Michelle.
"sodara gw main kerumah, Mic! jadi gw ga bisa datang.." jawab Echa.
"Oh gitu? Okeey..... Eh tugas kimia lu udah belom? Liat yah...."
"Udah koq, Mic! ini....." seru Echa sambil memberikan bukunya kepada Michelle, dan pergi ke toilet.
"Pagi semuaaaa!!!" teriak Devi yang baru aja datang.
"ga usah lebay deh!" komentar Rimon.
"Diam lo! kenapa sih dari kemarin lo sentimeeeeen banget sama gw?" tanya Devi kesal.
"Ngefans kalii dia, Dev!" tukas Iis..
"Ayi datang... Ayi datang... Ayi datang...!" seru Ayi
"Keliatannya, lu senang banget Ay? Ga kayak biasanya...." sembur Nadila
"Iya nih, lagi senang Ay?" tanya Vivi..
"Ceeeeileeeh... yang lagi senang!" seru Nadira..
"Tapi ngomong-ngomong, semalam lu kemana aja?" tanya Ikram.
"Gw ada keperluan sedikit, Kram!" jawab Ayi dengan semangatnya.
"Keperluan atau nemanin Echa belanja?" sembur Dian yang baru aja masuk ke kelas.
"Hah? Bener Ay, lu nemanin Echa belanja?" tanya Izky heran..
"Ya iyalah.... selain Riri, siapa coba yang ga datang? mereka berdua kan?" seru Aristi..
"Emang bener yah?" tanya Ifah yang juga ga percaya..
"Sekarang deh lo kasih tahu, lo kemana aja semalam?" tanya Iqbal maksa.
"Eee....eeee...eeeeee... Iya sih.." jawab Ayi gugup.
"Iya apaan? lo bener nemanin Echa belanja?" tanya Ilham lagi..
"Iiiiiyaaaaa......"
"Whaaaaaat???????? Jadi semalam, lu jalan bareng Echa?" teriak Dila kaget.
"Rupanya ada yang falling in love nih" goda Aldi kepada Ayi.
"Pantas aja, lu keliatan senang banget... gapapa deh, lo ga datang ke party gw, yang penting lo beneran jalan bareng Echa...." goda Tia...
"Eh! itu Echa datang!" seru Devi..
"Cieeeeee yang jalan berdua semalam..." ledek Difa..
"Kalau gw tau, semalam lo jalan bareng Echa, gw ga bakal sedih gara-gara lu ga dateng.." komenar Rimon.
"Cieeeeee Ayiiiiiiiiii....." teriak Ludin.
"Cieeeee Echaaa....." teriak Ikbal.
Tak henti-hentinya mereka membicarakan kejadian itu, Ayi dan Echa hanya bisa diam.. Tiap kali Ayi dan Echa ingin bicara, ga dikasih kesempatan sama mereka. Sejak itu, Ayi merasa ga enak dengan Echa.. "Kalau gw sih gapapa, tapi Echa?" umpatnya dalam hati. Iapun memutuskan untuk tidak mendekati Echa, dan memilih berteman sepeti biasa.

bersambung...

Kamis, 18 April 2013

"What's up with METEOR?" Eps.1

Teng....Teng...Teng....Teng.....

     Suara bel menggema diseluruh langit SMA Negeri 73 Gorontalo. Sekolah terkenal yang berada tepat ditengah-tengah kota, dengan cat abu-abunya yang menambah kemewahan, dan dikelilingi pohon-pohon tinggi nan rindang. Disinilah anak-anak langka dipertemukan dan dipersatukan dalam satu ruangan. People call them, "METEOR".
Cuaca senin itu sangat mendung, matahari bersembunyi dibalik gumpalan awan-awan hitam.
"Bu, apa ada baiknya upacara pagi ini ditiadakan? Cuaca hari ini masih kurang bersahabat, kelihatannya tak lama lagi akan turun hujan.." Ujar Pak Marijan kepada Ibu Tati -kepala sekolah- sambil merapikan kemeja dinasnya.
"Memang nampak mendung, tapi selama hujan belum juga turun, upacara akan tetap dilaksanakan." Jawab Bu Tati dengan nada tegas.

"Huuuhh.... Hampir aja gw terlambat." Ungkap Rimon ngos-ngosan dan mengambil barisan dibagian belakang.
"Eh, ini dia si cungkring udah datang, ga telat lu?" Tanya Ayi sambil memakaikan topi SMA kekepalanya. "Hampiiiiir aja..." Jawab Rimon.
"Aduh gila! two idiots udah dateng, nyesal dah gw berada dibarisan belakang, jadi pendengar setia mereka berdua ini." gumam Riri dalam hati.
"Ssstt! udah-udah, upacara mau dimulai tuh." seru Pak Raden dengan memotong pembicaraan Rimon dan Ayi. Riri tersenyum kesenangan.
     45 menit kemudian, saat upacara selesai, hujan belum juga turun, ramalan Pak Marijan ternyata kurang tepat. Seluruh siswa berjalan menuju kelasnya.
-------

"Eh, Vi! Flashdisk gw mana?" Tanya Nadira sambil meletakkan tas sekolahnya diatas meja..
"Ada tuh" Jawab Vivi dengan santai.
Sementara disudut kelas bagian depan..
"Horeeeee! gw menang..." seru Ilham dengan semangat.
"Hah, iya,iya.. kali ini lo menang dan gw kalah!" jawab Iqbal dengan nada pasrah..
Daning, si ketua kelas X4 datang dengan seragam barunya. "Haloo semuaa!!!! I'm coming~~" Teriak Daning sambil melambaikan tangan, seperti yang dilakukan Miss Indonesia diatas panggung
"Hah, Ayi..! Kepala suku kita udah datang tuh" seru Rimon seraya menunjukkan telunjuknya kearah Daning.
Daning terdiam dan dihantui rasa kesal berjalan menuju tempat duduknya. Jam pelajaran pertama pun dimulai. Seluruh siswa kelas X4 menyiapkan peralatan tulis menulis, dan belajar.

***

Teng....teng...teng..
Jam istirahat berbunyi. Ibu Maymun merapikan buku-bukunya dan menutup pelajaran.
"Dev, kekantin yuk!" ajak Izky seraya mengambil dompet didalam tasnya. "Ayok!" Jawab Devi yang juga mengambil dompetnya dalam tas.
Aristi juga hendak pergi ke kantin untuk beli makanan, "Lo ga jajan Cha?"
"gw puasa Ar!"
"Oh, maaf..maaf.. kalau gitu, gw kekantin dulu" ungkap Aristi kepada Echa. Iapun pergi meninggalkan Echa.
Disisi lain, Mimi menatap Utari dengan penuh rasa ingin tahu. Ia mengerutkan dahinya dan "Oy, masih ngegalau aja.. kenapa lu?"
Utari hanya diam, ia bergelut dengan perasaannya.
"Hey! lu kenapa? cerita donk ke gw.." bujuk Michelle sambil tersenyum.
"Ini, pacar gw berubah banget, dia mulai cuekin gw, dia ga peduli lagi sama gw" Jawab Utari dengan sedih.
"Oh, itu.... Udah cuekin aja.. lagian cowok kan bukan cuma dia doank! nyantai aja.."
"Tapi gw gabisa Mi."
"Yah, dibisain aja! Udah deh Ut, gausah ambil pusing, ujung-ujungnya lo yang sengsara. Yakhaan?!!"
"Iya juga sih.." jawab Utari. "Yaudah, makan yuk!" ajaknya.
Keduanya mengambil tupperware dan meletakkannya diatas meja. "Menu lo apa hari ini?" Tanya Michelle  sambil melirik tupperware Utari. "Ini emak gw masak 'Fillet kakap panggang', enak pasti! lo mau?"
"kelihatannya sih enak, tapi gw ga terlalu suka, makasih udah nawarin." jawab Michelle sambil tersenyum lebar. "Eh iya, gw bawa 'Pie salmon kentang' coba nih!" sambungnya.
"kurang suka juga Mi, makasih juga udah nawar"
"Okeeey.."
     Suasana kelas dalam keadaan hening. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Seperti biasanya, Ikbal asik dengan gamenya. Disampingnya ada Difa yang juga sibuk menggambar sesuatu, entah apa. Didepan kelas, nampak seorang Dila yang sibuk rapiin kerudung putihnya..
"Subhanallah! Lo cantik banget" pujinya dengan menujuk cermin. Iya! siapa lagi dipuji kalau bukan dirinya sendiri.
"Gila lo Dil! masa lo ngomong ama cermin?" ledek Ifah dengan suara yang sedikit nyaring.
"Biarin! mending gw ngomong ama cermin, daripada ngomong ama lo!" jawab Dila kesal.
Ifah pun tak merespon ucapan Dila. Ia hanya tertawa dan melanjutkan game yang sedaritadi dimainkannya. Disampingnya nampak seorang Dian duduk dengan manisnya. Dipangkunya gitar kecil mungil berwarna maron, dan mulai mengalunkan lagu kesukaannya, 'Tailor Swift-Speak Now'.
  Tak lama setelah itu, Andika, anak paling santai dikelas X4 datang dengan tas barunya. "Hari ini guru-guru lagi rapat, dan kita akan dipulangkan!! Yeeee!" Sorak Dika dengan wajah gembira.
"Kata siapa?" Tanya Aldi, Rimon, Ilham, Ayi, Ikram dan Iqbal secara bersamaan.
"Ga percaya, noh gw dengar dari Kak Divo -ketua osis-!" Jawab Dika dengan penuh percaya diri.
"Ah bohong lo! gw ga percaya.." seru Iis.
"Hu'uhm... lo pasti bohong kan??!!" sambung Riri dengan gaya khasnya.
"Kalo gw benar gimana?" tangkis Dika sambil membuka bungkus permen, dan mengunyahnya.
"Udah, udah! Ribut aja kerjaan kalian!" teriak Ikbal.
"Ntar dulu, eh tapi bener nih?" tanya Difa penasaran.
"Yaeelah! lo masih percaya aja sama Dika?" sambung Nadila dengan wajah datar. Tiba-tiba..
Teng...teng...teng....
Bel masuk berbunyi! Kali ini, giliran ibu Cahya -guru matematika- yang masuk.

***

 Istirahat kedua, Ifah, Daning, Aristi, Nadira, Vivi, Dian dan Echa bersiap-siap pergi menuju musholla.
"Ri! lo ga ikutan sholat?" tanya Vivi seraya membuka sepatu hitam pekatnya.
"ga Vi, gw lagi gabisa" jawab Riri sambil memasukkan tempat pensil kedalam laci mejanya.
"yaudadeh." seru Vivi. "Yang laen ga ikut sholat juga?" tanyanya lagi.
"sama Vi, gabisa." jawab mereka serentak.
  Vivi bergegas pergi ke musholla menyusul 5 orang temannya yang sudah lebih dulu pergi. Sementara anak laki-laki masih sibuk nge-PES dikelas. Beberapa menit sebelum diqamat, barulah mereka ke musholla.
"Div, temenin gw ke ruangan Pak Suparno dong! gw mau nganterin tugas bahasa Arab gw nih. cuma yah ga enak kalo gw kesana sendirian."
"Eh, nanti aja! pak Suparno lagi sholat. ga dengar tuh, dia yang ngimamin?"
"Oh iya yah.... Hehe, gw lupa!" jawab Riri dengan wajah yang sedikit malu.
Dila datang menghampiri Riri dan Diva, dilepasnya kerudung putih tipis yang terpakai dikepalanya. Rambut hitamnya bergoyang-goyang ditiup angin yang masuk dari jendela. "guys, gw gabung boleh kan?" tanyanya sambil duduk disamping Riri.
"Boleh koq Dil, sini! yeee..! jawab Riri dengan hebohnya.
  Mereka berbincang-bincang menghabiskan waktu istirahat. Didepan pintu nampak si Ilham juga asik berbincang-bincang dengan teman SMPnya, Linda. Mereka sering digosipkan pacaran. Tapi keduanya selalu membantah.
Dari kejauhan, terlihat Ayi dan Rimon baru keluar dari musholla dan berjalan menuju kelas
Seperti sedang mengendarai motor, Rimon datang dengan suara "Ngeeeeng...ngeeeeng..ngeeeng...!"
"Awas, Mon! belok kanan..!" seru Ayi yang berjalan dibelakangnya.
"iiiiiiiii'" hampir aja Rimon menabrak Utari yang dengan hati-hati membawa mangkuk berisikan bakso.
"Wah gila lu Mon! ga liat apa, gw bawa mangkuk panas. Kalo tumpah gimana?"
"Kan kalo Ut! Kenyataanya, gw ga nyambar lo! jadi udah tenang aja. Santai! Rileks!"
"Hhhh.. dasar lo! gw siram pake ini mau?" jawab Utari kesal sambil mengarahkan mangkuk baksonya kearah Rimon.
"Daripada lo nyiram gw pake itu, mending lo sedekah ke gw pake itu. Kelihatannya enak tuh!"
"Enak aja! udah gw ga mau ribut sama lo" jawab Utari lagi sambil meletakkan mangkuk baksonya diatas meja, dan duduk.
"Yaudah! Oke! Fine!!!!" seru Rimon dengan angkuhnya. Iapun bergegas meninggalkan Utari.

***

     Setelah berjam-jam mereka berada disekolah, tibalah waktunya mereka untuk pulang. Tapi Ayi masih saja duduk santai di taman depan sekolah. Ia teringat akan teman lamanya, Indra. Indra adalah teman baik Ayi sejak kecil, tapi sejak kelas 5 SD Indra pindah ke Medan, sampai saat ini belum juga ketemu Ayi. Ayi mengatupkan bibirnya, "Oh iya gw baru ingat! waktu itu gw kan nyimpan fotonya Indra dialbum kecil gw!" Tanpa pikir panjang, iapun berdiri dan berjalan meninggalkan taman, menuju tempat parkir dan mengambil mobil Maybach Landaulet-nya. Mobil itu dibelikan ayahnya ketika ia genap berusia 16 tahun.
  Setiba di rumah, ia tidak menemui seorangpun. Diatas mejanya, terdapat sehelai kertas putih bertuliskan pesan dari kedua orang tuanya, bahwa mereka akan bertugas diluar negeri selama kurang lebih 2 minggu. "Mama sama papa pergi lagi. Eh tapi, apa Tomy -adiknya- juga ikut?" tanyanya dalam hati. Berjalanlah Ayi menuju kamar adiknya dalam keadaan sepi, dan masih berantakan. "Ternyata dianya juga ikut!" umpatnya dalam hati. Bibirnya mengerucut dan ia berjalan menuju kamarnya. "Oh iya! Indra!!" Dibukanya lemari dan didapatinya album kecil berwarna hijau tua, album tempat dimana ia menyimpan foto Indra. Namun sayang, ketika ia membuka album itu, foto yang dulunya ada dalam album itu, mendadak hilang. "Yah, gagal deh missi gw nyimpan foto Indra." Tiba-tiba, iPhone5nya mengalunkan lagu Bruno Mars-Just the way you are. Oh her eyes, her eyes make the stars look like they're not shinin'.. Her hair, her hair falls perfectly without her tryin'.. She's so beautiful, and I tell her everyday... Rimon menelfonnya.
"Halo bro! ada apa?"
"Jalan yuk! Bosan gw di rumah." Jawab Rimon. "Tapi, pake mobil lo yah, lo jemput gw." godanya..
"Ah, dasar lu Mon! Yaudah deh, setengah jam lagi gw kesana."
"Oke bosss!!"
2 menit setelah Rimon menutup telfonnya, ia kembali menelfon Ayi, dan lagu Bruno Mars kembali mengalun.
"Apa lagi bro?" tanyanya dengan sedikit kesal.
"Sorry Ay! gw diajak nyokap gw, nemenin dia belanja. Jalannya nanti aja yah, sorryyyyyy bangeeet!" bujuk Rimon dengan penuh harap.
"Hah, sialan lu Mon! Iya iya deh, gapapa.!"
"Oke bro! Bye!"
Ayi menutup telfon dengan sedikit kesal. Tapi daripada sendirian dirumah, ia memutuskan untuk pergi jalan-jalan...
Hal yang tak pernah diduga sebelumnya, ketika ia pergi menghibur dirinya di Taman Kota, matanya tertuju pada wanita berkerudung coklat yang tengah duduk menyendiri disudut taman, "Hey, itukan Echa?." ungkapnya. Karena penasaran, iapun menghampiri gadis itu, ternyata benar, itu Echa. "Echaaa??!" sapanya dengan sedikit kaget.
"Eh, Ayi? duduk Ay," tawar Echa.
Ia pun duduk disamping kanan Echa. "Tumben lo disini?" Tanyanya sambil menyimpan iPhone5nya.
"Oh ini, gw bosan aja, makannya gw jalan kemari. Tadinya sih, gw mau ngajak yang laen kemari. Tapi mereka sibuk sendiri. Yaudah!" jawab Echa panjang lebar. "Nah lo sendiri? bukannya nge-PES bareng sodara-sodara lo, tapi malah nongkrong disini, kenapa? lo ada masalah dengan mereka? mereka ga ngajakin lo main bareng?" tanya Echa kepo.
"nggak koq, yah gw cuma ingin datang kemari, eh gataunya ketemu elu disini."
"Oh.." jawab Echa tersenyum. Tiba-tiba...
"Oyyyyyyy! pacaran aja kerjaan lu berdua. ciecieeee... jadian koq ga bilang-bilang sih?" ledek Aristi yang datang-datang ngagetin mereka dari belakang.
"Apaan sih lo Ar? orang gwnya ga sengaja ketemu Ayi disini." jawab Echa kesal.
"hu'uhm.. sembarangan aja lu kalo ngomong.." lanjut Ayi.
"Loh? orang gw nya jelas-jelas lihat dengan mata kepala gw sendiri, lo berdua pacaran kan? udah ngaku aja." goda Aristi sambil menggerak-gerakkan alisnya.
"ngasal lo! gw gasengaja ketemu Echa disini! kenapasih ga percaya banget sama gw?
"yang bener lo?"
"Iyyyyaaaaaa! suwer!"
"ah iyadeh gw percaya.. eh gw boleh gabung dengan kalian?"
"dengan senang hati!" jawab Ayi dan Echa bersamaan.
"cieeeee kompak" ledek Aristi lagi.
"Udah deh yah! Stop! mau gabung kagak?" tanya Echa kesal.
"Iya..iyadeh ampun.... tapi ngomong-ngomong, kalian berdua koq bisa ada disini?"
"yah kita cuma pengen ngibur diri doank, sekalian liat-liat suasana kota diwaktu sore." jawab Ayi seranya mengambil kembali iPhone5 dan headsetnya sekaligus memasangkan headset ke iPhone5nya.

bersambung...

Kamis, 21 Februari 2013

Misteri Kapal Hantu Titanic ~

    Ahad, 19 februari 2013, tepat dihari itu, kita buat janji jalan-jalan ke Mall cuma buat datangin tempat yang namanya "Misteri Kapal Hantu Titanic".. Sebenarnya kita pengennya sih semua, cuma karena ada sebagian yang ga mau nyia-nyia'in waktu buat datang ke tempat yang begituan, sebagian lagi yang cuek-cuekan dan gamau tau, dan sebagiannya lagi yang ga bisa ikut, kita jalan ber14 (Ikbal, Ludin, Michelle, Utari, Dila, Tia, Nadila, Riri, Syarifah, Daning, Aristi, Dian, Vivi dan Nadira). yahhh sebenarnya sih janjiannya jam 01.00 p.m. Cuma karena kita ga on time, jadi yah telat dikit.. Itupun, masih nunggu yang laen~ (sama aja perasaan) -_- Ahh pokoknya deh.... Tadinya sih, Juragan kelas kita, si Daning belom ada, karena dia diajak sama tantenya ke tempat lain.... Okee,,, kita pada berbondong-bondong beli tiket.. -_- Tiketnya pasangan, hampiiiir aja si Ikbal ga dapet pasangan.. Untungnya ada Nadila ;) ~
     Beberapa menit kemudian ~ :D Selesai beli tiket, kita ga langsung masuk.. Karena jumlah kepala (Serem amat!) yang masuk, maksimal 8 orang.. Yaudah kita bagi 2 tim, berhubung disitu ada 2 orang anak laki-laki, maka keduanya jadi ketua tim... Cara ngebagi anggota timnya, itu dengan "Hompimpa alaihomgambreng"! (Kayak anak kecil, malu-maluin lagi). Tapi gaapalah, semua akan jadi indah bila dilalui bersama ;;) Dan kali ini, kita lombain tim mana yang bisa lama didalam..... Tim yang masuk duluan adalah Timnya Ludin.. dan anggotanya Michelle, Utari, Vivi, Syarifah, Riri (dan adiknya) dan Nadira.. Dan Tim kedua, adalah timnya Ikbal, anggotanya Tia, Dila, Aristi, Nadila, Dian,. 
     Tentang dalemnya, sebenarnya kita ga liat apa-apa didalam ~ secara kan gelap, jalannya tabrak-tabrakan pula.. Tapi yang ada, didalam kita bukannya ketakutan tapi malah tertawa ga ada habis-habisnya.. Hantunya asli lucu banget ~ mereka ga berbakat deh jadi hantu cocoknya jadi pelawak... 1 yang bikin Ikbal ga berhenti2 ngomel itu pas didalem, ada cewek gemuk yang pegang2 dia, yang minta dilindingi sama dia (ceileh Ikbal)~ dan Dila?? sendalnya ketinggalan, makannya dianya kelamaan didalam.. kita udah mikir yang engga-engga, jangan-jangan dianya pingsan didalam.. ehhh gataunya nyariin sendal...
     Ehm.... ~ Setelah diadakan perbandingan waktu antara tim pertama dan kedua, ternyata pemenangnya adalah Tim Pertama, dibawah pimpinan si Ludin.. Udah pas semua ngumpul lagi, dilanjutkan dengan sesi foto bersama, buat diabadikan lah~ jarang-jarang loh bisa pergi barengan lagi, yah karena jadwal sekolah yang luar biasa padatnya... After puas berfoto ria, kita terpisah lagi jadi 2 kelompok. Yang satunya pergi beli makanan, yang satunya lagi mampir ke toko buku, dan beli makanan (tapi bukan beli makanan ditoko buku) .  Nah, disini nih baru si Daning nongol.. udah kita ngabisin waktu berjam2 buat nyantai. 
     Okedeh,karena hari udah makin sore aja, satu per satu pasukan gugur. Tapi yang lainnya masih sibuk hunting.. Setelah itu??? bingung deh mau ngomong apa.. Yoweeess, mimin mau pamit yah ceman-ceman.. Nanti deh Insya Allah mimin balik lagi.... 

Sampai Jumpa ^^