Kamis, 09 Mei 2013

"What's up with METEOR?" Eps.3

     Cuaca pagi itu cukup cerah, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. mendung. Lengkungan manis terlihat disetiap bibir para pemburu ilmu. Tumpukkan tugas tak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap tersenyum. Ini emang udah jadi resiko kita sebagai pelajar, jadi ngapain mesti ngeluh? ini kan juga demi masa depan kita. Siapasih yang gamau sukses?
Munawir Rizaldy, pria berkulit sawo matang ini telat bangun pagi.
Kringg.... Kring.....Kring.... jam bekernya kembali mengeluarkan bunyi yang amat dibencinya dan "Braak!!!" dilemparnya jam itu. pecah. dan "tok...tok..tok..!!  Aldi? buka pintunya, kamu ga tau ini sudah jam berapa? cepat bangun atau pintunya papa dobrak?" gerutu ayahnya.. "Iya..iya pa! Aldi bangun!!" jawabnya kesal sambil beranjak dari tempat tidurnya itu. "06.30??! gila! gw telat!!" teriaknya kaget melihat jam dari BlackBerry-nya. Tanpa basa basi ia masuk ke kamar mandi, dan Plaak!! Aldi terpeleset. "Hah, sial! kalau bukan karena ulangan ekonomi, ngapain gw bangun." umpatnya.
 Hari ini sebenarnya Riri masuk sekolah, shootingnya ditunda sampai besok. Tapi karena capek, ayahnya memintanya untuk istirahat dulu. Berbeda dengan Aristi, Echa, Ifah dan Vivi yang udah standby di sekolah sejak pukul 06.00, Dika memilih untuk bolos dan menghabiskan harinya dengan game. Jadi intinya, Riri dan Dika ga masuk hari ini. Of course, mereka akan ikut ulangan susulan.
Jam sekolah udah nunjukin pukul 06.49, tapi bel belum berbunyi juga. Rupanya ini kabar baik bagi Aldi yang tiba di sekolah pukul 06.50, Dewi Fortuna berpihak padanya. Tepat selangkah melewati gerbang SMA Negeri 73 Gorontalo bel dibunyikan dan gerbang ditutup. "Uww yeah! gw bebas dari surat-suratan.. hahah.." seru Aldi sambil tertawa kecil berjalan lapangan untuk apel pagi. Seperti biasa, yang mimpin apel adalah pak Marijan, ditemani rekan kerjanya, pak Raden, bu Tati, dan pak Roya. Cukup lama. Setelah setengah jam apel di  lapangan, rasanya bosen juga. Yaudah, kalo bosan, masuk yok!
Baru aja mau nge-PES, eh ibu Surtiyah udah masuk. "Sesuai janji ibu, hari ini kita ulangan. Simpan semua buku kalian, sediakan pensil dan penghapus diatas meja. Ibu akan membagikan soal dan lembar jawaban. Pas bel istirahat berbunyi, ibu anggap sudah selesai dan semua harus dikumpul. Yang terlambat, tidak akan diperiksa!" cerocos bu Surtiyah. Ulangan dimulai! kelas yang masih dihiasi plastik makanan ringan disusul dengan butiran butiran debu itu tampak sangat hening. Ya, mereka sibuk berperang dengan soal ekonomi yang susahnya minta ampun! Tapi tidak dengan Ikbal, ia mengerjakan soal dengan sangat santai. Berkat dukungan yang besar dari soulmatenya, Riri, anak ini mendadak rajin belajar dan doyan banget sama yang namanya buku pelajaran. Berbanding terbalik dengan Rimon yang celingukan nyari jawaban. Semalam dia emang belajar, tapi belajar kimia bukan ekonomi. Padahal ulangan kimia udah selesai seminggu yang lalu. Bagaimana dengan Aldi yang rela-relain datang ke sekolah? simple. kalo ga belajar, ngapain dia datang?

***

     Waktu istirahat tiba. Dila memilih ke kantin sendirian. Aldi yang tadinya berjalan seperti orang yang terburu-buru, tiba-tiba berhenti melihat Dila duduk termenung sendirian. Ia pun datang menghampiri Dila.
"Hey? kenapa lo Dil? Dari kemarin gw liat, lo murung terus? ada masalah?" tanyanya sambil duduk didekat Dila.
"Ga koq Di! gw cuma kangen bonyok gw.." jawabnya seraya mengaduk-aduk minumannya.
"Hah? bonyok apaan..?"
"Halah, kamseupay banget sih lo! Bonyok itu BOKAP-NYOKAP!!" jawabnya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Aldi.
"Oooooooh..... itu! hah, lo ga bilang sih daritadi.... Lagian, lo jahat banget sih, ngatain gw kamseupay.."
"Biarin.."
"Eh, nasib ulangan ekonomi lo gimana?"
"Hah, ga tau deh.."
"Jutek banget, jelek tau mukanya..." goda Aldi sambil tertawa kecil.
"Apaan sih lo!" jawab Dila. Kali ini Aldi berhasil buat Dila senyum.
"Eh, Dil! ntar malam lo ada waktu? jalan yuk!"
"gabisa!" jawab Dila spontan.
"Kenapa?"
"Yah pokoknya gw gabisa!!"
"Iyadeh.. tapi gw boleh duduk disini kan? temanin lo makan?" godanya lagi. Kali ini Aldi mendapat anggukkan dari Dila. Ia selalu mancing Dila untuk bicara. Alhasil, mereka menghabiskan waktu istirahat berdua. Sebenarnya Aldi sudah lama suka sama Dila. Tapi Dila hanya menganggapnya sebagai teman biasa, nggak lebih. Belakangan ini dia selalu menyendiri, ga lain karena kangen bonyoknya yang saat ini ga tinggal bersamanya. Aldi berusaha meyakinnya bahwa orang tuanya disana baik-baik aja, dan Dila ga perlu khawatir. "Al! gw pengen pulang, pengen ketemu mereka!" ujar Dila.
"Nanti aja! gw juga pengen ketemu ortu lo.." jawab Aldi dengan tatapan yang mendalam.
"Maksud lo?"
"Iya Dil! nanti gw bakal ketemu bonyok lo itu buat ngelamar lo!"
"Garing ah.... udah deh jangan bercanda!"
"Gw serius Dil! ntar kalo gw udah selesai kuliah, dan udah punya kerja, gw bakal ngelamar lo!"
"Hahaha..... lo pasti bercanda kan? cuma buat gw ketawa, iya kan?"
"Hahaha... terserah lo deh.."
Aldi emang terlihat seperti sedang bercanda. Tapi apa yang dikatakannya bisa saja benar.
"Eh...... ngapain mereka berduaan disitu?" seru Daning kaget melihat Aldi dan Dila.
"Aldi sama Dila??" tanya Izky.
"Mereka pacaran?" tanya Devi.
"Positive thinking aja! mereka berdua kan emang teman dekat.." tukas Michelle.
"Tapi itu??" seru Iis sambil mengarahkan telunjuknya kearah Dila dan Aldi.
"Bener kata Michelle. Udah, jadi jajan nggak??" seru Ifah.
"Yaudadeh!" jawab Izky, Devi dan Iis.
Sementara di kelas; "Eh, Dif? gw boleh pinjam catatan fisika lo nggak?" tanya Iqbal berjalan mendekati Difa.
"Iya boleh koq.. Nih!" seru Difa sambil memberikan buku catatannya.
"Kenapa ga pinjam punya gw aja, Bal?" tawar Nadila.
"Jangan......jangan.....????" seru Vivi.
"Jangan jangan apa?" tanya Iqbal.
"Jangan jangan lo suka yah sama Difa?" tukas Nadira.
"Cieeeeee......." goda Vivi.
"Udah ngaku aja!!" ledek Ludin
"Apaan sih lo semua, jangan ngaco deh!" tangkis Iqbal.
"Lo bukannya lagi ngincar anak kelas sebelah itu yah?" tanya Echa.
"Haaaah, lo lagi.. apaan sih.. giniyah, gw minjam catatan Difa itu karena kemaren dia diskusinya bareng gw! gausah ngarang deh.. bercanda lo pada ga elit semua. basi tau nggak..." jawab Iqbal ketus.
"Yaelah..... gausah diambil hati juga kaleeee...." teriak Ikram.
"Iya... Tapi tunggu, tadi kata Echa lo ngincar anak sebelah, emang iya? koq lo ga pernah cerita ke gw sih? biasanya kan lo kasih tau gw... koq kali ini nggak sih?" tanya Ilham panjang lebar.
"Lo percaya Echa atau gw?"
"Yah gw percaya lo sih..."
"Lah terus..????"
"Iya deh iya...... Santai bro! gausah marah marah.."
"Kalian lagi pada ngapain?" tanya Daning yang baru aja balik dari kantin..
"Lo liat kita ngapain?" jawab Rimon.
"nge-PES..."
"Terus? kenapa masih nanya?"
Daning terdiam dan mengabaikan perkataan Rimon. Anak ini emang ga henti-hentinya gangguin Daning. Tapi hal itu udah ga asing lagi bagi Daning..

***

     Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di sekolah, mereka pulang membawa lelah. ini udah jadi rutinitas mereka sehari-hari. pergi pagi, pulang sore. awal-awalnya sih pada ngeluh, tapi karena udah biasa, semuanya fine fine aja.... 
"Ga mau bareng Dil?" tawar Aldi..
"Eh, gausah,,, makasih....." jawab Dila.
"Udah, ayo masuk...."
"Bener nih ga ngerepotin?"
"Iya..... ayuk!".
Aldi dan Dila pulang bareng naik ferrari-nya Aldi.
"Eh, koq tumben lo bawa ferrari hari ini? hartop lo kemana?" tanya Dila.
"Hartop gw dipakai sama bokap, dan diganti sama yang ini nih..."
"Wah,, keren Di!"
"Haha.. lo bisa aja.... By the way, lo sekarang tinggal di apartemen yah?"
"Ga Di! gw sayang kost-kost-an gw.. Apartemen itu punya bokap gw, tadinya dia nyuruh gw pindah kesitu, tapi gw ga mau...."
"Loh? kenapa?"
"Gw udah PW tinggal di kost Di!"
"Jadi, lo mau turun disini?" tanya Aldi seraya menghentikan mobilnya tepat didepan kost Dila.
"Pasti! makasih yah Di! lumayanlah, menghemat biaya transportasi.. Sekali lagi makasih banget, maaf udah ngerepotin!" seru Dila, turun dari mobil.
"Iya sama-sama Dil! Gapapa koq.... besok besok, pulangnya barengan lagi yah?" tawar Aldi.
"Yeeah, liat nanti aja deh! Bye!!" Dila masuk kedalam kostnya dan Aldi balik ke rumah.
     Meskipun seharian ini Aldi banyak menghabiskan waktunya bersama Dila, tapi dia masih merasa ada yang kurang. "Gw belum nembak Dila, tapi kalo nanti gw nembak dia, apa dianya mau nerima gw?" tanyanya dalam hati. "Ah, pokoknya gw harus beraniin diri.. sekarang juga, gw bakal nelfon Dila!" lanjutnya. "Tapi apa iya, gw nelfon dia? apa ga sebaiknya ngomong langsung aja?? ah tapi ga deh, gw telfon sekarang aja.." gumamnya seraya membolak-balikkan Blackberry-nya. "Ah bodoh!" tanpa basa basi babi busuk, Aldi pun menelfon Dila.
"aku suka jaipong, kau suka disko.. ow..ow..ow.. aku suka singkong, kau suka keju.. ow..ow.." waf lagu Bill & Brod yang ga kalah keren itu mengalun dihandphone Dila..
"Halo Di! ada apa?" tanya Dila.
"E....e....e.. gw mau ngomong sama lo!" jawab Aldi gugup.
"Loh? kenapa ga tadi aja, mau ngomong apa?"
"ehehe.. gw lupa Dil.. gw mau bilang, kalau sebenarnya..."
"Sebenarnya apa?"
"Se...sebenarnya.."
"Koq lu jadi kayak Ajiz Gagap gitu sih? sebenarnya apa?"
"eee... gini Dil! sebenarnyaa..."
"Sebenarnya.. sebenarnya.. sebenarnya lu jadi ngomong nggak sih?" tanya Dila kesal.
"Nah, itu dia! sebenarnya gw gajadi ngomong. maaf ganggu." seru Aldi dan segera menutup telfonnya.
"Kenapa lidah gw jadi kaku? kenapa gw ga berani ngomong sama Dila?" tanyanya dalam hati. "Ini anak makin hari makin aneh.." gumam Dila. "Ah, bodoh amat! ngapain gw mikirin dia? Buang-buang waktu aja.." lanjutnya. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Dila. Ia membaringkan badannya diatas ranjang, perlahan matanya mulai tertutup dan kembali masuk ke alam mimpi.

bersambung...

1 komentar:

utari utami mengatakan...

nice story.... :)
bikinin cerita buat aku doong.. heheee :D

Posting Komentar